JERITAN KELUHAN UNTUK LAHAN PARKIR DI KAMPUS UMS TERCINTA

 

JERITAN KELUHAN UNTUK LAHAN PARKIR DI KAMPUS UMS TERCINTA



Pertengahan tahun 2022 balada covid-19 yang melanda Indonesia mulai mereda. Aktifitas-akatifitas dan kehidupan bermasyarakat mulai kembali berjalan dengan normal, tak luput hal-nya dengan aktifitas pendidikan di mana kegiatan belajar mengajar sudah mulai berjalan dengan normal. Banyak sekolah-sekolah baik itu sekolah dasar hingga sekolah menengah dan perguruan tinggi yang sudah melakukan kegiatan pembelajaran secara luring atau tatap muka. Salah satu perguruan tinggi yang sudah melaksanakan pembelajaran secara luring adalah Universitas Muhammadiyah Surakarta, salah satu universitas swasta terbesar di Surakarta bahkan terbesar di Indonesia.

Banyak mahasiswa yang mulai berdatangan untuk ikut melaksanakan pembelajaran secara luring. Mahasiswa datang dari berbagai daerah tidak hanya dari Surakarta saja mahasiswa dari luar Surakarta bahkan luar jawa sudah mulai berdatangan. Banyak dari mereka yang merasa senang dengan kembali diadakannya pembelajaran luring ini, namun tak sedikit juga yang merasa kurang senang dengan kembali diadakannya kegiatan ini karena mereka sudah terlanjur nyaman dengan kegiatan pembelajaran daring sehingga mereka terlihat sedikit terpaksa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran luring ini. Namun apa mau dikata kebijakan universitas sudah berkata dan para mahasiswa mau tak mau harus mengikutinya.

Lalu apakah dengan diadakannya kembali kegiatan pembelajaran secara luring ini tidak muncul masalah sama sekali? Tentu saja tidak. Banyak permasalahan yang mulai timbul sejak diadakannya kegiatan pembelajaran luring ini, mulai dari banyaknya dosen yang masih saja menggunakan sistem pembelajaran secara daring dengan alasan sibuk atau tidak menemukan ruang kelas dan alasan-alasan klasik lainnya, dan permasalahan lahan parkir yang minim yang dimiliki oleh kampus. Nah permasalahan ini lah yang seringkali dekeluhkan oleh para mahasiswa baik itu mahasiswa baru ataupun mahasiswa tua.

Banyak kampus dari berbagai fakultas yang memiliki lahan parkir yang minim dan cenderung kurang luas, terutama lahan parkir untuk kendaraan sepeda motor. seperti contoh lahan parkir yang dimiliki oleh fakultas ekonomi dan bisnis (FEB) yang terletak pada kampus 2 serta lahan parkir yang terletak pada fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) yang terletak pada kampus 1. Kedua lahan parkir yang dimiliki oleh kedua fakultas tersebut bisa dibilang kurang luas, dan cenderung masih kurang untuk menampung ratusan kendaraan dari mahasiswanya. Walaupun lahan parkir yang dimiliki oleh FKIP bertingkat namun hal itu membuat mahasiswa mereka malas atau enggan untuk memarkian kendaraan mereka disana. Sehingga mereka lebih memilih untuk memarkirkan kendaraan merak di lantai satu dan basement.

Karena hal itulah yang membuat penumpukan kendaraan yang berlebih di lahan parkir tersebut. Kejadian seperti ini pernah saya dan teman saya alami saat memarkirkan kendaraan di tempat parkir tersebut. Banyak mahasiswa yang masih memarkirkan kendaraan mereka secara ngawur dan cenderung seenaknya sendiri. Hal itu membuat teman-teman saya kesal dan mereka berkata “mbok nek parkir sing bener to mboak, moass” (kalau parkir itu yang betul dong mbak mas). Dan karena kejadian tersebut teman saya sampai mengunggahnya kelaman media sosial twitter. Hal itu ditujukan agar para mahasiswa lebih tertib lagi dalam memarkirkan kendaraan mereka. Banyak komentar dari unggahan tersebut mulai dari alasan parkiran penuh maupun mereka malas untuk parkir di lahan parkir lantai atas.

Lalu solusi apakah yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal seperti ini, di mana para mahasiswa dapat mengadukan permasalahan ini? Apakah BEM? Jika dilihat dari kinerja mereka saat ini, BEM tidak dapat menyelesaikan permasalahan ini karena apa, banyak dari mereka enggan mendengarkan permasalahan ini dan terkesan acuh dengan permasalahan ini. Jadi sampai kapan permasalahan ini akan terjadi? Kami para mahasiswa biasa pun tak tau.

Comments

Popular posts from this blog

Keindahan Air Terjun Kedung Grojog di Desa Soko Bagaikan Potongan Surga Yang Tersembunyi.

Resensi buku petualang dari desa orke

Resensi Film "All The Presidents Men"