Resensi Film "All The Presidents Men"

Review Film "All The Presidents Men" 

Sinopsis dan Analisis Film All The Presidents Men (1976)

Sutradara : Alan J. Pakula

Produser  : Walter Coblen 

Tokoh   : Jack Warden, Hal Holbrook, Jane Alexander, Martin Balsam, Dustin Hoffman, Robert Redford, Jason Robards 

Liris     : 9 April 1976

SINOPSIS :

 

Film ini menceritakan tentang perjuangan wartawan sejati dimana seorang wartawan dari Washington Pos bernama Bob Woodward yang ingin mengangkat kasus pencurian Watergate yang melibatkan orang dalam atau mantan petinggi-petinggi Presiden Richard Nixon. Dalam kasus ini tertangkap lima orang tersangka yang terlibat dalam kegiatan CIA, salah satunya bernama Mr. Charles Colson yang dulunya bekerja sebagai seorang konsultan gedung putih dan juga seorang agen CIA. Lima orang tersangka ini dibawa ke pengadilan untuk dimintai keterangan tentang apa yang mereka lakukan, mendengar itu semua Woodward segera pergi ke pengadilan untuk melihat langsung apa yang terjadi di ruang sidang tersebut. Di ruang pengadilan dia bertemu seorang saksi dan segera menanyakan informasi tentang kasus yang terjadi. Tapi sayangnya saksi tersebut tidak mau memberitahu informasi apapun kepada Woodwart dan malah menghindar. Dia segera pergi ke kantor dan mempresentasikan kepada pimpinan redaksi tapi karena informasi yang dia dapatkan tidak cukup kuat, orang-orang disekitar tempat kerjanya pun meremehkan apa yang di presentasikannya serta terkena ancaman akan dipecat.

 

Tidak menyerah, Woodward tetap mencari informasi tentang kasus itu. Setiap hari dia menghubungi orang-orang yang mereka kenal untuk dimintai keterangan tapi tak seorangpun yang mau memberikan informasi secara jelas. Sampai saatnya Woodward menemui rekan kerjanya yang pernah berhubungan dengan salah satu tersangka. Ia meminta perempuan ini untuk dimintai keterangan, awalnya perempuan ini menolak namun akhirnya ia mau memberikan informasi tentang data gedung putih. Dari data inilah Woodward dan rekan kerjanya menyelidiki kasus yang sedang terjadi satu persatu dari daftar nama, mereka hubungi dan mereka datangi namun semuanya menolak untuk dimintai keterangan karena beberapa dari mereka tidak percaya bahwa Woodward dan Carl adalah wartawan dari Washington Post. Beberapa hari kemudian, Carl membawa bukti yang ia dapat kepada Woodward disinilah mereka mulai menulis setelah bukti benar-benar jelas dan mereka langsung menerbitkan berita ini di Washington Post. Akhirnya terungkap sudah kasus ini dengan fakta yang sebenar-benarnya yang ternyata presiden  Richart Nixon melakukan korupsi di negaranya.

 

ANALISIS :

 

Film ini tentang politik dibalik kampanye, dimana rekayasa politik itu selalu ada. Di film ini terdapat nilai-nilai jurnalisme. Film ini banyak sekali misteri dibalik masalah politik, jadi jangan berharap film ini akan ada hiburannya.

 

Film ini melibatkan media sebagai ide cerita. Dimana media merupakan sarana yang paling tepat untuk melakukan kampanye, berpolitik dan membuat propaganda. Di gambarkan dua tokoh utama yang merupakan seorang jurnalis mereka adalah Woodwart dan Berstein. Mereka bekerja dengan segala tekanan yang dihadapi untuk mendapatkan sebuah berita. Woodwart dan Berstein menampilkan aksi wawancara pada level tertinggi, yakni investigasi. Bukan hanya sebagai wartawan saja namun mereka juga detektif.

 

Dalam melakukan wawancara, dua wartawan ini tidak menyerah dalam mencari informasi kepada narasumbernya. Mereka terus mencari siapa dalang dibalik semua ini. Suatu ketika Woodwart dimintai Deep Throat untuk menelusuri uang sejumlah $25.000 yang mengalir dari Komite Pemenangan Kembali Presiden Richard Nixon ke salah satu pelaku skandal Watergate. Penelusuran pun dimulai. Dua wartawan itu pun mengalami masa yang amat melelahkan, dimana mereka harus mewawancarai puluhan orang yang bekerja di bagian keuangan pemerintahan untuk mengetahui aliran dana sebesar $25.000 tersebut. Mereka mendatangi satu-satu rumah orang yang ada di data itu. Saat mereka mendatangi rumah orang-orang tersebut, tidak ada satu pun yang ingin memberikan penjelasan untuk apa aliran dana sebesar $25.000. Putus asa hampir menghinggapi perasaan dua orang ini, tapi mereka tetap berusaha mencari tahu dan tetap melakukan wawancara satu persatu dan akhirnya mereka menemukan orang yang bersedia mengungkap untuk apa aliran dana tersebut. Ternyata dana tersebut digunakan untuk spionase dalam kasus Watergate.

 

Setelah Woodwart dan Berstein melakukan wawancara tidak ada hasilnya, Woodwart dan Berstein mencari data tertulis. Mereka mecari semua data yang berhubungan dengan orang-orang yang terlibat dalam aliran dana $25.000. Salah satu bagian film ini, ketika Berstein tak kunjung bertemu dengan orang yang memegang bukti transfer uang $25.000 itu, padahal ia sudah membuat janji dengan orang tersebut. Ia dibiarkan menunggu di Lobi Kantor oleh receptionist, Berstein dibiarkan selama kurang lebih enam jam menunggu. Dengan kepintaran dan keberanian Berstein, ia melakukan suatu kebohongan kecil untuk menjauhkan receptionist itu dari ruangannya tersebut dan setelah itu, akhirnya ia masuk ke dalam ruangan orang yang memegang bukti transfer uang $25.000.

 

Klarifikasi dalam suatu berita itu sangat diharuskan oleh seorang wartawan. Woodwart dan Berstein sudah melakukan klarifikasi berita yang mereka pegang. Apabila berita tidak di klarifikasi dengan benar maka berita tersebut tidak akan diterbitkan. Mereka hampir saja tidak menerbitkan berita tersebut, karena terkendala oleh klarifikasi, padahal deadline sudah sebentar lagi. Sia-sia saja apabila mereka tidak menerbitkan berita tersebut padahal berita yang mereka punya sudah memiliki puluhan data bahkan ratusan data, telah mereka dapatkan namun gara-gara hanya klarifikasi, berita mereka tidak diterbitkan. Lebih baik tidak jadi menulisnya daripada dikutuk massa karena menulis berita yang salah.

 

KESIMPULAN :

 

All The President’s Men merupakan sebuah film jurnalistik yang sangat bagus. Melalui film ini, mengajarkan kita, bagaimana kesulitan wartawan saat menemui narasumber, perdebatan dengan redaktur tak berujung, deadline yang ketat, hingga jam kerja yang tak teratur. Film ini menekankan pentingnya idealisme jurnalis dalam meliput sebuah masalah. Di film ini juga menjadi inspirasi untuk kita yang ingin menjadi seorang jurnalis. Tapi kekuatan sesungguhnya dari film ini adalah ceritanya yang mengalir dengan sangat baik meskipun penonton sangat memerlukan pengetahuan sejarah Skandal Watergate yang mumpuni untuk benar-benar memahami film ini secara keseluruhan.

 

Jurnalisme, yang sudah menanamkan dirinya sebagai pilar keempat dalam demokrasi, juga turut berperan dalam mengontrol aktivitas penguasa, khususnya eksekutif, yang seringkali korup. Melalui independensi jurnalisme, kebusukan yang kita lakukan bisa diungkap meski dengan upaya yang cukup sulit.

 

INDEPENDENSI DARI KELAS ATAU STATUS EKONOMI. Persoalan independensi tidak terbatas pada ideologi.

 

Saat menjadi wartawan bisa lebih terlatih, berpendidikan lebih tinggi, dan dalam banyak hal juga mendapatkan bayaran lebih baik, maka muncullah komplikasi lain tentang independensi.

 

Mantan ombudsman Washington Post Richard Harwood menyetujui hal ini dalam forum yang sama: “Wartawan, sebagai anggota elite terdidik, mengutarakan pandangan umum mereka, pola pikir, dan bias dari rekan mereka yang segolongan. Kerja mereka dibentuk agar sesuai dengan selera dan kebutuhan kelas atas yang baru ini. Saya harus mengatakan bahwa banyak bukti pers kebanyakan mempertaruhkan masa depannya pada kelas ini karena jumlahnya terus menanjak ... dan menolak atau meninggalkan kaum buruh, orang-orang yang berpenghasilan lebih rendah.

 


Comments

Popular posts from this blog

Keindahan Air Terjun Kedung Grojog di Desa Soko Bagaikan Potongan Surga Yang Tersembunyi.

Resensi buku petualang dari desa orke